Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan

Opor Ayam Kacang Panjang

Assalamu'alaykum


Karena sudah terlalu lama absen bikin Opor Ayam, saya langsung kalap begitu melihat ayam di tukang sayur. Apalagi bumbu di rumah lengkap karena beberapa hari sebelumnya sudah belanja bumbu. Untuk masak opor, saya terbiasa menggunakan kunyit supaya berwarna kuning cantik. Ada juga yang tanpa kunyit, sehingga disebut Opor Putih. Tapi saya demen opor kuning. Selain lebih menarik, hal ini sudah biasa saya lihat sejak saya kecil dulu. Jika ibu  masak opor, selalu berwarna kuning. Bumbu opor sangatlah simpel. Hanya menggunakan bumbu dapur yang sudah tersedia sehari-hari di rumah. Kali ini untuk variasi masakan saya menggunakan kacang panjang. Sudah beberapa resep opor ayam di blog DapurManis yang pernah saya buat. Opor menggunakan tahu tempe pun ada resepnya. Opor ayam yang dicampur sayur seperti buncis juga pernah dibuat dan rasanya tidak kalah enaknya. Jadi, variasi opor sangatlah banyak. Untuk masak opor gak perlu menunggu lebaran kayaknya, hehehe. Sekarang aja dicobain resepnya biar nggak penasaran. Yuk.

Bahan:
1 ekor ayam, potong 10 bagian
10 lonjor kacang panjang, dipotong-potong 4 cm
3 lembar daun jeruk, dibuang tulangnya,
2 lembar daun salam
1 batang serai, diambil putihnya, dimemarkan
2 cm lengkuas, dimemarkan
1/2 sendok makan garam
1 sendok teh gula pasir
800 ml santan dari 1/2 butir kelapa
3 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus:
4 butir kemiri, disangrai
8 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1/2 sendok teh ketumbar
4 cm kunyit

Cara membuat :
1. Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun jeruk, daun salam, serai, dan lengkuas sampai harum.

2. Tambahkan ayam. Aduk rata. Masukkan santan, garam, dan gula pasir. Masak sampai mendidih dan matang.

3. Koreksi rasanya. Boleh diberi kaldu bubuk jika suka. Terakhir masukkan kacang panjang. Masak sebentar, matikan api. Siap disajikan.

Brudel Manado

Assalamu'alaykum


Yihaaaa....ngeblog lagi di bulan Oktober setelah absen lebih dari seminggu. Bulan September kemarin hanya bisa posting 5 resep. Ngenes ya hihihi..mood ngalor ngidul emang jadi biang kerok yang susah dihilangkan sih (alesan). Beberapa hari yang lalu mb Monica Rampo kirim WA, menanyakan kenapa saya belum update blog. Jawabannya ya gitu deh, ga mood dan belum punya ide bikin apapun. Padahal di dalam draft sudah berderet-deret aneka resep yang sekiranya bakal saya bikin dalam waktu dekat. Buanyak gitu aneka resep yang telah saya tulis termasuk prolognya. Kebiasaan buruk memang, suka menunda-nunda eksekusi resep yang telah direncanakan dengan alasan gak mutu, hihihi....

Karena hal itulah saya memaksakan diri harus bikin sesuatu yang membuat segera bergerak ke dapur. Setelah googling kepincut dengan Brudel ala Manado. Brudel paling beken tuh brudel resepnya Ibu Jane Sipasulta. Menurut saya resep ini masih orisinil karena langsung diwariskan dari Mama beliau pada putrinya. Takaran resepnya pun menggunakan gelas belimbing, bukan ditimbang. Jadul banget kan ya. Resep ini sudah saya simpan bertahun-tahun. Dan sudah dipraktekkan suhu-suhu baking di dunia maya. Review-nya, rata-rata memuaskan. Brudel berbeda dengan bluder ya. Jika brudel hasil akhirnya mendekati seperti cake atau bolu dengan aroma yeast, sedang bluder adalah roti atau bread. Tekstur dan rasa bluder itu adalah tekstur roti pada umumnya namun lembut sekali karena penggunaan kuning telur yang banyak.

Karena hasil akhir brudel yang perpaduan antara cake dan roti itulah yang menjadikannya unik. Meski saya sudah membuat beberapa Brudel di blog ini, tapi kangen juga untuk membuatnya kembali. Apalagi bahannya sudah tersedia di rumah, jadi tinggal eksekusi aja. Brudel ini ada juga yang menyebutnya bluder cake. Karena teksturnya seperti bolu makanya diberi embel-embel cake di belakangnya.

Brudel di bawah ini takarannya hanya dibuat setengah dari resep asli dan dikonversi ke gram. Karena jaman sekarang belum tentu ada gelas belimbing di rumah, makanya saya berinisiatif untuk mengkonversinya. Tapi jika mau pakai gelas yang lain boleh juga kok. Pakai cup juga boleh. Dengan catatan, harus pakai gelas atau cup yang sama, jika tidak mau berantakan hasilnya alias gagal heheheh.... Setelah matang, brudel ini sangat nikmat jika disandingkan dengan kopi atau teh. Rasanya tidak terlalu manis. Cake dengan aroma yeast ditimpali rasa susu hmmm....wangi dan enak sekali.

* Takaran 1 gelas belimbing = 250ml

Bahan:
2¾ gelas terigu (302 gr)
3 butir telur ukuran kecil
3/4 gelas gula pasir (150 gr)
1/2 gelas susu bubuk (50 gr)
50 gr margarin, suhu ruang dan tidak perlu dicairkan
1 gelas air hangat (250 ml)
5 gr yeast/ragi instant


Cara membuat :
1. Siapkan loyang tulban diameter 22cm tinggi 7cm. Olesi margarin semua bagian dan taburi terigu sampai rata.

2. Dalam wadah besar campur bahan kering seperti terigu, gula, susu bubuk dan ragi jadi satu.

3. Tambahkan margarin, setelah itu masukkan telur. Aduk rata pakai sendok kayu atau spatula. Kalo males ngaduk, bisa pake mixer dgn kecepatan sedang.

4. Tambahkan air hangat sedikit demi sedikit, sambil diaduk sampai rata. Adonan akhir kental tapi mudah dituang seperti adonan sponge cake.

5. Tuang di loyang yg sudah dioles margarin dan ditabur terigu (adonan ini akan ngembang, jadi masukkan setengah loyang saja, kalo ga bisa luber kemana-mana). Ratakan permukannya. Hentakkan loyang beberapa kali di atas meja untuk menghindarkan lubang setelah matang nanti.

5. Diamkan di tempat hangat sampai adonan naik dan dan mengembang selama 30 menit (saya fermentasinya hampir 1 jam karena sambil ngerjain PR. Akibatnya tekstur kue berlubang-lubang, hiks)

6. Panaskan oven suhu 180'C. Panggang di dalam oven sampai matang. Lakukan test tusuk

7. Setelah matang, keluarkan dari oven. Langsung oleskan margarin di permukaan kue yang masih panas.

*********
Resep di bawah ini yang asli, milik ibu Jane Sipasulta.

BRUDEL (bukan BLUDER yaa..)

Bahan:
5 1/2 gls terigu
5 btr telur
1 ½ gls gula pasir
1 gls susu bubuk
100 gr margarin (blueband sachet 200gr, dibelah 2 aja, pake 1/2nya, jd ga usah repot nimbang..hehe)
2 gls air hangat
1 bungkus ragi instant


Cara membuat:
1. Campur bahan kering (terigu, gula, susu, ragi) jadi satu.

2. Tambahkan margarin, setelah itu masukkan telur. Kalo males ngaduk, bisa pake mixer dgn kecepatan sedang.

3. Tambahkan air hangat sedikit2. Aduk rata.

4. Tuang di loyang yg sudah dioles mentega dan ditabur terigu (catatan: adonan ini bakal ngembang, jd masukkan setengah loyang saja, kalo ga bisa luber kemana-mana)

5. Diamkan kurleb setengah jam, smp adonan naik.

6. Panggang di oven smp matang.

7. Setelah matang, keluarkan dari oven. Lgsg oleskan margarin di permukaan kue yg msh panas.

O iya, gelas yg dipake gelas belimbing ato yg standar aja.. kalo mau pake cup/cangkir jg okeh aja.. asal sama ukuran gls/cup/cangkirnya.. jgn ngukur terigu, pake cangkir ini.. trus ngukur gula, pake cangkir yg lain...

Jd praktis kan ga usah repot konversi resep ke ukuran gram2an...;)

Tumis Pare Goreng

Assalamu'alaykum


Salah satu resep yang belum tayang di blog, tapi sudah tersimpan di IG. Saya membuatnya di bulan April lalu. Cekidot yuk.
----------------------------------------------------------

Apa tuh maksud judul di atas ? Pare digoreng ? Iya. Pare yang digoreng. Jika kita masak pare pasti ada proses meremas remas kan ya untuk mengurangi rasa paitnya ? Nah, sekarang saya punya cara baru untuk mengurangi rasa paitnya. Yaitu digoreng !! Betul. Pare yang digoreng ternyata bisa berkurang rasa paitnya. Tips ini saya dapat dari Bunda Estherlita. Ih syuka deh sama tips ini. Selama ini jika dibejek atau diremas, pare sering hancur. Tapi jika beli tumis pare di luar rumah, kok cakep ya bentuknya. Masih utuh gitu. Warnanya juga masih ijo cantik. Tidak pucat seperti yang saya buat. Ternyata rahasianya adalah, parenya digoreng ! Tidak diremes atau dibejek. Selain itu lebih praktis. Tidak bikin capek atau pegel. Pare yang digoreng tidak terlalu berminyak hasilnya seperti jika kita menggoreng terong ya. Jika terong amat sangat berminyak setelah digoreng, pare tidak seperti itu. Nggak berminyak dong ? Enggak juga. Tetap saja berminyak, mirip gorengan kalo saya bilang. Kan digoreng. Jadi tetap saja berminyak tapi tidak sebasah terong gitu. Setelah tahu cara praktis ngilangin pahitnya pare, saya jadi ketagihan tuh masak pare hihihi....jika dihitung saya sudah empat kali pakai tips ini. Dan hasilnya memuaskan. Yuk cobain yuk. Biar gak penasaran bikin tumis parenya 😄😄

Bahan :
4 bh (500gr) pare/paria
3 sdm rebon, cuci bersih, tiriskan
1 sdt kecap ikan/asin
1 sdm saus tiram
¼ sdt garam
50 ml air
75 gr teri medan, goreng matang

Bumbu iris :
6 bh bawang merah, iris tipis
3 siung bawang putih, iris tipis
10 bh cabe merah keriting
6 bh cabe rawit merah

Cara membuat :
1. Potong ujung pare, buang isinya dan potong bulat bulat setebal 1cm. Cuci bersih, tiriskan.

2. Panaskan minyak agak banyak di atas wajan. Goreng pare asal layu saja. Angkat tiriskan. Sisihkan.

3. Panaskan sedikit minyak dalam wajan, masukkan bumbu iris dan rebon, tumis sampai harum. Masukkan kecap ikan dan saus tiram. Aduk rata

4. Masukkan pare dan garam, aduk rata. Cek rasanya. Masukkan air. Masak sampai meresap dan airnya habis Koreksi rasanya. Matikan api. Sajikan bersama taburan teri goreng.


Gelek Pandan (Onde-Onde Ketawa Pakai Yeast)

Assalamu'alaykum


Setelah tau rasanya gelek yang pernah dibuat dan hasilnya cepet ludes, saya kepingin bikin lagi. Kali ini bikin pakai daun pandan biar wangi hasilnya. Saya memotong daun pandan di teras karena daunnya sudah cukup lebat. Daripada kering, mending langsung diberdayakan saja jadi gelek.

Resep gelek yang dulu, dimodifikasi sedikit dengan mengurangi terigu, dan menambahkan air supaya sedikit lemas adonannya sehingga mudah dibentuk. Saya juga mencelupkan adonan ke dalam air sebelum digulingkan ke atas wijen agar tidak rontok ketika digoreng. Selain itu saya juga membuat keratan menggunakan gunting di atas adonan, sesaat sebelum digoreng. Hasilnya bisa merekah lebih lebar. Kelihatan kayak bunga malahan, hihihi.... Kelebihan adonan yang dikerat adalah adonan lebih mudah matang sampai ke dalam. Tanpa banyak prolog yang bertele-tele, berikut resepnya yah. Yuk capcus.....

Bahan :
1 butir telur
100 gr gula pasir
⅛ sdt garam halus
40 gr margarin suhu ruang, tidak perlu dicairkan
450 gr terigu serbaguna
6 gr yeast/ragi instant
5 gr baking powder
4 gr soda kue
½ sdt vanili bubuk
180 ml air pandan (10 lbr daun pandan+air diblend saring. Beri 2-3 tetes pewarna hijau tua)
Air secukupnya untuk celupan
100 gr wijen putih
Minyak goreng cukup banyak

Cara membuat :
1. Dalam baskom besar kocok telur, gula dan garam sampai kental dan gula larut. Masukkan margarin, kocok asal rata. Gunakan whisker atau garpu saja untuk mengocok.

2. Masukkan semua bahan kering seperti terigu, yeast instant, baking powder, soda kue dan vanili bubuk. Aduk menggunakan tangan (diuleni) sambil dituangi air pandan sedikit demi sedikit, sampai rata dan kalis (tidak lengket di mangkuk).

3. Ambil adonan sebesar bola bekel, bulatkan, celupkan sebentar dalam air, kemudian gulingkan ke atas wijen. Tata di atas loyang. Lakukan sampai adonan habis.

4. Panaskan minyak goreng cukup banyak. Gunting adonan berbentuk silang di permukaannya. Goreng gelek sampai warnanya kuning kecoklatan (deep fry). Gunakan api kecil supaya matang sampai ke dalam. Angkat, tiriskan dan dinginkan.

Pukis Kenyal Dan Praktis, All In One Method

Assalamu'alaykum


Entah kenapa hari ini saya merasa bersemangat ingin membuat cemilan, meski di kepala belum punya ide mau bikin apaan. Langsung deh, "inspeksi" bahan kue di toples gede untuk melihat bahan apa saja yang masih tersedia. Saya melihat masih ada terigu dan gula pasir. Ketika buka kulkas masih ada telur dan instant yeast. Pingin bikin roti atau pukis yah ? Bingung nih. Akhirnya saya pilih pukis saja karena masih pingin pegang mixer setelah bikin Eggless Marble Sponge Cake tempo hari. Itung itung biar gak kelamaan nganggur mixernya. Kali ini saya pingin cara pembuatan pukis yang praktis, all in one method alias semua bahan digabrukin ke dalam baskom kemudian diaduk. Berhubung tepungnya banyak, saya pakai mixer saja supaya cepet nyampur. Ketika menyiapkan bahan, saya teringat dengan pukis pasar yang biasa dibeli. Tekstur pukis pasar tuh rada kenyal, sedikit liat dan lentur. Saya berpikir mungkin diberi tapioka kali ya. Akhirnya saya mengambil tapioka untuk dicampurkan pada terigunya. Adonan ini tidak harus dikocok sampai mengembang seperti sponge cake. Asal sudah rata dan licin teksturnya, sudah cukup. Gampang kan, mana praktis dan cepet lagi. Setelah adonan selesai, tinggal difermentasi dan bisa ditinggal melakukan pekerjaan lain. Setelah matang, teksturnya seperti yang saya inginkan. Sedikit membal gitu, mirip pukis di pasar. Jadi ini bukan pukis yang lembyut ya. Kalo ingin pukis lembut, hilangkan tapiokanya dan ganti dengan terigu. Untuk 1 resep adonan ini bisa menghasilkan 30-40 pcs pukis ukuran kecil. Ukuran cetakan yang saya pakai ada di foto ya. Yuk sekarang dilihat resepnya yuk....


Bahan :
500 ml santan sedang
1 sdt garam
3 lbr daun pandan, simpulkan
50 gr mentega (boleh diganti margarine)
425 gr terigu serbaguna
75 gr tapioka/kanji/aci
½ sdt baking powder
250 gr gula pasir
3 butir telur ayam
½ sdt vanili bubuk
1 sdt (4 gr) yeast/ragi instant
Margarine untuk olesan setelah matang

Cara buat :
1. Rebus santan, garam dan daun pandan sampai mendidih, sambil diaduk-aduk supaya tidak pecah. Masukkan mentega kemudian matikan api. Biarkan mentega jadi meleleh kemudian sisihkan sampai hangat.

2. Dalam baskom atau mangkuk besar campur jadi satu terigu, tapioka, gula pasir, telur dan vanili. Sambil dituangi santan margarine, kocok pakai mixer speed rendah-sedang sampai rata dan tidak berbutir-butir. Adonan akhir agak kental seperti sponge cake. Taburkan yeast, kocok lagi asal rata. Tutup dan fermentasikan sampai naik 2 kali lipat (double) selama 1 jam (tergantung suhu ruangan).

Note :
* Jika tidak ada mixer, boleh diaduk manual pakai sendok kayu atau balloon whisk. Adonan tidak memerlukan pengocokan hingga mengembang. Asal sudah rata dan licin teksturnya, sudah cukup. Jika bergerindil, saring saja. Setelah disaring, masukkan instant yeast kemudian difermentasi.

* Pastikan yeast masih aktif ya. Jangan yeast yang telah mati. Jika ragu, boleh membuat biang dahulu untuk mengaktikan yeast. Ambil 100 ml santan hangat dari resep di atas, yeast dan 1 sdt gula pasir kemudian dicampur dan diaduk hingga rata. Biarkan berbuih selama 10-15 menit. Masukkan ke dalam adonan bersama dengan sisa santan margarine.

3. Panaskan cetakan pukis menggunakan api sedang. Setelah panas, kecilkan apinya. Olesi margarin. Aduk-aduk adonan supaya kempis dan semua gasnya hilang.

4. Tuang ke dalam cetakan setinggi 7/8, tutup. Panggang menggunakan api kecil sampai matang. Angkat. Selagi panas, olesi semua bagian pukis dengan margarine supaya tidak kering.

Note :
* Jika mau diberi toping, panggang setengah matang dulu. Kemudian taburkan topingnya. Tutup sampai matang.


Bika Ambon Ekonomis, Hanya 2 Telur, Fermentasi Semalam

Assalamu'alaykum


Kepingin bikin bika ambon lagi nih. Setelah beberapa kali sukses bikin bika ambon bersarang, saya kangen. Bika ambon termasuk penganan yang disukai di rumah. Meski bolak balik bikin, saya tetap mengutak atik resep dengan pakem sedikit telur. Ngirit ya hihihi.....Tipikal emak-emak banget deh. Saya demen memodifikasi resep dengan komposisi bahan yang berbeda-beda. Salah satunya ya resep di bawah ini. Meski irit telur, tetep enak kok hasilnya. Jadi layak jual juga. Karena ekonomis, saya menambahkan terigu supaya bika bisa empuk dan nggak alot (liat). Penambahan terigu pada bika ambon bisa dilihat di resep yang lain, yang pernah saya buat. Maksudnya komposisi tapioka dan terigu berbeda-beda gitu di setiap resep. Karena lama gak bikin bika ambon, kadang saya merasa keder, ngeper sebelum bikin. Saya khawatir lupa trik dan tips yang pernah saya lakukan dulu. Masalahnya karena tidak semua trik atau tips bisa diingat, atau tidak ditulis dengan super detail. Apalagi saya tergolong jarang membuat kue kenyal satu ini. Jadi gampang lupa dengan semua trik dan tipsnya. Termasuk ketika eksekusi resep yang sekarang ini, saya deg-degan ketika memulainya.

Untuk resep kali ini saya pakai metode fermentasi semalam. Njiplak penjual bika ambon yang katanya adonan bikanya difermentasi semalam (hasil baca tabloid lama yang mewawancarai penjual bika ambon). Selama ini saya hanya mendiamkan adonan selama 2-3 jam untuk fermentasinya. Pingin tau aja, bisa gak saya melakukannya. Bahan yang digunakan sama dengan bika ambon pada umumnya. Karena fermentasi semalam, penggunaan yeast instant dikurangi banyak supaya tidak over fermentasi yang bisa mengakibatkan asam rasanya. Resep di bawah nanti hanya pakai 2 gram instant yeast saja. Proses fermentasi akan berlangsung lambat akibat pemakaian yeast yang sedikit tadi. Setelah difermentasi semalam, keesokan harinya barulah adonan dipanggang. Saya masih cocok pakai pasir untuk memanggangnya, tidak pakai oven. Menurut saya lebih praktis cara ini. Tapi kalo dirasa ribet, silakan pakai oven ya. Cuma, saya belum pernah mencoba pakai oven, jadi ga tau gimana tekniknya. Kalo nekat sok pinter kasih saran, takut gagal hasilnya. Jadi saya sharing yang sudah dicoba saja ya. Jika adonan mau difermentasi siang hari, bisa juga kok. Mungkin bisa lebih cepat kali ya karena suhu siang hari biasanya lebih panas. Jadi adonan dibuat pagi, difermentasi seharian, kemudian sorenya dipanggang. Terserah mau bikin pagi atau malam, suka suka aja ya. Satu-satunya hal yang tidak saya sukai dari bika ambon loyang adalah perjuangan mengeluarkan bika setelah matang wkwkwkwkw..... Bagian dasarnya pasti lengket sodara-sodara ! Ketika masih panas, bika sudah lengket. Apalagi setelah dingin. Lebih lengket lagi ! Super lengket malahan ! Padahal bika ambon dilarang keras dikeluarkan dari loyang selagi panas karena seratnya sangat rentan jadi rusak. Loyang juga tidak boleh dialas kertas karena akan mengapung selagi dipanggang. Apa boleh buat, harus berjuang mencongkel bika pakai spatula kayu supaya lepas dari loyang hihihi.... Perasaan saya campur aduk gak karuan antara ngeden (mengejan) karena harus mencongkel sekuat tenaga, tapi harus ekstra hati-hati juga supaya bika tidak rusak, sembari menggerutu panjang pendek hahahaha..... Meski begitu kenapa saya belum kapok bikin bika ambon pakai loyang ya ? Apa mungkin sudah waktunya memberi kode keras pada bapaknya anak-anak untuk beli loyang teflon baru (modus).

Untuk memanggang bika ambon, teorinya menggunakan slow baking. Artinya memanggang dengan panas rendah, api kecil, waktu cukup lama dan tidak ditutup. Bagian atas yang tidak ditutup tujuannya supaya gas atau udara yang didorong dari bawah, bisa lepas keluar. Gas yang keluar inilah yang membentuk serat dan permukaan bika ambon jadi berlubang-lubang. Setelah lubang tidak terbentuk lagi, barulah loyang ditutup agar permukaannya matang dan kering. Memang butuh waktu lama. Rata-rata lebih dari 1 jam. Tergantung dari tinggi rendahnya bika yang diinginkan. Semakin tinggi akan semakin lama waktu panggangnya. Sebaliknya, jika lebih rendah, waktu yang dibutuhkan juga lebih singkat. Jika kurang sabar dan ingin menggunakan api agak besar karena pingin cepet matang, dijamin bagian dasar bika akan menggelap cenderung gosong hihihi.....saya udah pernah sih bikin bika yang dasarnya gelap. Untungnya gak gosong dan gak pahit. Tapi jadi kurang cantik sih hasilnya. Oleh karena itu membuat bika ambon tidak bisa terburu-buru. Harus punya stok sabar yang buuanyak heheheh.... Gimana, siap bikin bika ambon ? Hayuk ah uji nyali bikin bika ambon.



Bahan Biang :
2 gr (½ sdt) ragi/yeast instant
1 sdt gula pasir
100 ml air hangat

Bahan bika :
325 ml santan kental dari 1 butir kelapa
4 gr garam
1 btg serai, memarkan
10 lbr daun jeruk purut, buang tulang daunnya supaya wangi
2 lbr daun pandan

200 gr tapioka/aci/pati kanji
100 gr terigu
1 sdt kunyit bubuk
200 gr Gula pasir
2 btr telur utuh
75 ml minyak goreng

Cara buat :
1. Rebus santan, garam, serai, daun jeruk dan pandan. Aduk-aduk dengan api kecil supaya tidak pecah, sampai mendidih. Matikan api kemudian dinginkan. Saring dan ukur kembali sebanyak 300 ml. Biarkan dingin.

2. Campur semua bahan biang : yeast instant, gula pasir dan air hangat, aduk rata. Biarkan berbuih selama 15 menit. Sisihkan.

3. Dalam wadah besar campurkan tapioka, terigu, kunyit bubuk dan gula pasir. Aduk pakai balloon whisk. Buat lubang di tengah. Tuangkan biang ke dalamnya.

4. Masukkan telur. Menyusul santan dingin sambil terus diaduk. Terakhir masukkan minyak goreng. Aduk sampai rata. Adonan akhir encer/cair. Tutup dan fermentasikan sampai berbuih banyak selama semalam (saya mulai fermentasi jam 21.00 s/d 06.00 esok pagi. Total fermentasi 9 jam).

Note :
* Jika mau fermentasi express (kereta kali pakai express 😁😁😁) alias lebih cepat, gunakan instant yeast 1 sachet (11 gr) dan difermentasi 2-3 jam.

* Selain gelembung dan buih yang terbentuk banyak, aroma ragi juga tercium cukup tajam ketika adonan dibuka tutupnya. Ini juga pertanda fermentasi harus segera diakhiri dan harus segera dipanggang.

5. Siapkan nampan/kaleng bekas biskuit/loyang butut/wajan butut atau apalah yang lain, kemudian diisi pasir setinggi 2-3 cm. Taruh di atas kompor. Beri selembar kertas bersih di atas pasir (pakai kertas baking) kemudian letakkan loyang ukuran 18x18x7 cm di atasnya. Olesi minyak goreng agak banyak. Ratakan. Minyak sedikit menggenang di tengah loyang. Panaskan sampai loyang panas selama 30 menit memakai api kecil.

Note :
* Jika tidak ada pasir bisa menggunakan abu gosok untuk cuci piring dengan ketebalan yang sama.

* Sengaja mengalasi loyang dengan selembar kertas supaya pasir tidak mengotori loyang yang kebetulan ada sambungannya. Tidak jarang minyak sering merembes yang mengakibatkan pasir nempel di sisi loyang. Ukuran kertas sedikit lebih lebar daripada loyang.

6. Ambil adonan bika, aduk-aduk adonan sampai kempis. Tuang ke dalam loyang panas. JANGAN DITUTUP. Panggang dengan api kecil (saya pakai api super kecil) sampai permukaan bergelembung kecil kecil. Lanjutkan memanggang sampai gelembung terbentuk rata di semua permukaan adonan (menit ke 15 mulai terlihat gelembung di pinggir loyang).

7. Setelah terbentuk gelembung, pada menit ke 40-45 akan terbentuk lubang-lubang. Lanjutkan memanggang selama 20-25 menit lagi sampai tidak terbentuk lubang di permukaan.

8. Setelah lubang berhenti berproduksi, saatnya menutup loyang. Tutup loyang (pakai tutup panci) sampai permukaan kering dan matang (10-15 menit). Test sentuh jari. Jika tidak nempel, sudah matang. Angkat loyang dari nampan berisi pasir kemudian dinginkan supaya kokoh tekstur bikanya.

Note :
* Total waktu panggang bika ini butuh waktu 90-100 menit (1 jam 40 menit). Semakin tinggi bika, semakin lama waktu panggangnya. Sebaliknya, semakin rendah, waktunya akan lebih singkat

* Untuk mendapatkan efek warna sedikit gosong di permukaan bika, saya menggunakan fire blow torch yang disemburkan ke atas bika yang telah matang.

Hasil : 1 buah bika ambon 18x18 cm dengan tinggi 5 cm



Gelek, Onde-Onde Ketawa Pakai Yeast


Assalamu'alaykum


Pernah dengar kata Gelek ? (huruf 'e' dibaca seperti ember). Ada yang pernah makan onde onde ketawa ? Pasti pernah. Onde-onde ketawa alias roti ketawa (Medan), sering saya nikmati ketika kecil dulu. Di Solo, ukuran onde onde ketawa cukup beragam, dari yang seukuran bola tenis hingga yang imut seukuran kelereng untuk sekali hap. Almarhum bapak saya, ngefans dengan onde onde ketawa ini. Apalagi jika saya nginthil (ngikut) ibu ke pasar, pasti ketemu sama snack satu ini. Berulang kali makan onde-onde ketawa, saya menemukan 2 macam tekstur yang berbeda. Ada yang garing, sedikit renyah bagian luarnya dan agak ngeprul atau beremah bagian dalamnya. Sedang satunya terasa lembut, empuk, digigit tidak keras dan sedikit terasa moist (lembab). Nah, onde-onde yang moist ini lho yang jadi favorit saya. Bertahun-tahun saya mencari resepnya tapi belum juga ketemu. Jadul, masih susah dong ya kalo mau cari resep. Gak seperti sekarang, resep bertebaran di internet. Suatu hari, ketika saya masih tinggal di Bawen dulu, saya disamper tetangga. Namanya mbak Hartini, yang datang ke rumah untuk pinjam mixer karena mau bikin gelek. Apa itu gelek ? Gelek adalah sebutan untuk onde-onde ketawa di daerah Ungaran dan sekitarnya (Kabupaten Semarang). Seumur hidup baru sekali ini saya mendengar istilah gelek. Lucu gitu rasanya hihihi... Tetangga saya itu mau mengadakan hajatan dan gelek ini akan jadi salah satu suguhannya. Selain pinjam mixer, dia juga mengajak saya untuk melihat proses pembuatan gelek. Dengan senang hati saya terima tawarannya. Di sana saya melihat mbak Hartini ini bikin gelek menggunakan ragi/yeast instant. Baru ngeh saya jika gelek pakai yeast. Karena setau saya, yeast hanya dipakai untuk bikin roti, pao atau donat. Ternyata gelek perlu yeast juga supaya bisa mekar dan memberi tekstur empuk. Setelah matang, saya diberi beberapa butir untuk dicicip. Dan saya kaget !! Gelek ini adalah onde-onde yang saya cari selama ini. Teksturnya mirip dengan onde-onde moist yang pernah saya makan dulu. Langsung deh saya nodong resepnya dan diberikan. Beberapa kali saya praktek bikin gelek ini. Secara rasa mirip dan enak, tapi bentuknya gak karuan. Pada gundul, rontok semua wijennya hahahah..... Sayang, ketika saya pindahan, catatan geleknya hilang. Padahal saya berniat memodifikasi resepnya supaya lebih baik. Sejak saat itu saya tidak pernah bikin gelek lagi.

Tanpa dinyana ketika saya masuk grup kuliner di sosmed, ada yang sharing resep gelek ala daerah Ungaran. Dan resepnya pakai yeast !! Seketika saya simpan resepnya. Resep ini milik mbak Eko Pangestuwati, seorang bakul kue rumahan yang tinggal di Ungaran. Ingatan saya kembali ke masa lampau ketika melihat mbak Hartini bikin gelek dulu. Resep mb Eko ini pakai yeast dan margarin sama seperti milik mb Hartini dulu. Dan menurut saya, margarin inilah yang membuat tekstur gelek jadi moist. Jika roti ketawa hanya menggunakan baking powder atau soda kue supaya bisa merekah, penggunaan yeast pada gelek membuat tekstur dalamnya lebih empuk. Dan saya suka onde onde yang empuk ini. Setelah resepnya disimpan beberapa lama, baru hari inilah saya bikin gelek yang kesekian kalinya. Resep mb Eko yang asli menggunakan 2,5 kg terigu. Memang hasilnya buanyak karena untuk jualan. Sedang resep di bawah saya pakai 500 gr terigu dengan 1 butir telur. Plus modif sedikit pada takarannya. Kan, umat di rumah cuma sedikit. Itupun hasilnya jadi 40-50 biji lho. Banyak sedikitnya tergantung ukuran yang dibuat ya. Ketika masih hangat teksturnya moist dan empuk. Begitu dingin, masih tetep empuk juga. Juara ! Gak mengecewakan deh resepnya. Jadi gigi gak perlu olah raga keras untuk mengunyah heheheh.... Setelah matang, ih senengnyaaaa. Makanan nostalgia saya sudah ketemu. Udah gitu, rasanya seperti yang saya impikan ketika saya masih anak anak dulu. Lembut, moist dan tidak terlalu manis. Dinikmati bersama teh hangat, maa syaa allah, surga deh....

Bahan :
1 butir telur
100 gr gula pasir
⅛ sdt garam halus
40 gr margarin suhu ruang, tidak perlu dicairkan
500 gr terigu serbaguna
6 gr yeast/ragi instant
5 gr baking powder
4 gr soda kue
½ sdt vanili bubuk
160 ml air
100 gr wijen putih
Minyak goreng cukup banyak

Cara membuat :
1. Dalam baskom besar kocok telur, gula dan garam sampai kental dan gula larut. Masukkan margarin, kocok asal rata. Gunakan whisker atau garpu saja untuk mengocok.

2. Masukkan semua bahan kering seperti terigu, yeast instant, baking powder, soda kue dan vanili bubuk. Aduk menggunakan tangan (diuleni) sambil dituangi air sedikit demi sedikit, sampai rata dan kalis (tidak lengket di mangkuk).

3. Ambil adonan sebesar bola bekel, bulatkan kemudian gulingkan ke atas wijen. Lakukan sampai adonan habis.

Note :
* Ketika membulatkan onde-onde tidak perlu rapi dan mulus. Buat saja bulatan retak-retak, pecah-pecah yang nantinya akan merekah ketika digoreng.

4. Panaskan minyak goreng cukup banyak. Goreng gelek sampai warnanya kuning kecoklatan (deep fry). Gunakan api cenderung kecil supaya matang sampai ke dalam. Angkat, tiriskan dan dinginkan.