Tampilkan postingan dengan label Snack. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Snack. Tampilkan semua postingan

Brudel Manado

Assalamu'alaykum


Yihaaaa....ngeblog lagi di bulan Oktober setelah absen lebih dari seminggu. Bulan September kemarin hanya bisa posting 5 resep. Ngenes ya hihihi..mood ngalor ngidul emang jadi biang kerok yang susah dihilangkan sih (alesan). Beberapa hari yang lalu mb Monica Rampo kirim WA, menanyakan kenapa saya belum update blog. Jawabannya ya gitu deh, ga mood dan belum punya ide bikin apapun. Padahal di dalam draft sudah berderet-deret aneka resep yang sekiranya bakal saya bikin dalam waktu dekat. Buanyak gitu aneka resep yang telah saya tulis termasuk prolognya. Kebiasaan buruk memang, suka menunda-nunda eksekusi resep yang telah direncanakan dengan alasan gak mutu, hihihi....

Karena hal itulah saya memaksakan diri harus bikin sesuatu yang membuat segera bergerak ke dapur. Setelah googling kepincut dengan Brudel ala Manado. Brudel paling beken tuh brudel resepnya Ibu Jane Sipasulta. Menurut saya resep ini masih orisinil karena langsung diwariskan dari Mama beliau pada putrinya. Takaran resepnya pun menggunakan gelas belimbing, bukan ditimbang. Jadul banget kan ya. Resep ini sudah saya simpan bertahun-tahun. Dan sudah dipraktekkan suhu-suhu baking di dunia maya. Review-nya, rata-rata memuaskan. Brudel berbeda dengan bluder ya. Jika brudel hasil akhirnya mendekati seperti cake atau bolu dengan aroma yeast, sedang bluder adalah roti atau bread. Tekstur dan rasa bluder itu adalah tekstur roti pada umumnya namun lembut sekali karena penggunaan kuning telur yang banyak.

Karena hasil akhir brudel yang perpaduan antara cake dan roti itulah yang menjadikannya unik. Meski saya sudah membuat beberapa Brudel di blog ini, tapi kangen juga untuk membuatnya kembali. Apalagi bahannya sudah tersedia di rumah, jadi tinggal eksekusi aja. Brudel ini ada juga yang menyebutnya bluder cake. Karena teksturnya seperti bolu makanya diberi embel-embel cake di belakangnya.

Brudel di bawah ini takarannya hanya dibuat setengah dari resep asli dan dikonversi ke gram. Karena jaman sekarang belum tentu ada gelas belimbing di rumah, makanya saya berinisiatif untuk mengkonversinya. Tapi jika mau pakai gelas yang lain boleh juga kok. Pakai cup juga boleh. Dengan catatan, harus pakai gelas atau cup yang sama, jika tidak mau berantakan hasilnya alias gagal heheheh.... Setelah matang, brudel ini sangat nikmat jika disandingkan dengan kopi atau teh. Rasanya tidak terlalu manis. Cake dengan aroma yeast ditimpali rasa susu hmmm....wangi dan enak sekali.

* Takaran 1 gelas belimbing = 250ml

Bahan:
2¾ gelas terigu (302 gr)
3 butir telur ukuran kecil
3/4 gelas gula pasir (150 gr)
1/2 gelas susu bubuk (50 gr)
50 gr margarin, suhu ruang dan tidak perlu dicairkan
1 gelas air hangat (250 ml)
5 gr yeast/ragi instant


Cara membuat :
1. Siapkan loyang tulban diameter 22cm tinggi 7cm. Olesi margarin semua bagian dan taburi terigu sampai rata.

2. Dalam wadah besar campur bahan kering seperti terigu, gula, susu bubuk dan ragi jadi satu.

3. Tambahkan margarin, setelah itu masukkan telur. Aduk rata pakai sendok kayu atau spatula. Kalo males ngaduk, bisa pake mixer dgn kecepatan sedang.

4. Tambahkan air hangat sedikit demi sedikit, sambil diaduk sampai rata. Adonan akhir kental tapi mudah dituang seperti adonan sponge cake.

5. Tuang di loyang yg sudah dioles margarin dan ditabur terigu (adonan ini akan ngembang, jadi masukkan setengah loyang saja, kalo ga bisa luber kemana-mana). Ratakan permukannya. Hentakkan loyang beberapa kali di atas meja untuk menghindarkan lubang setelah matang nanti.

5. Diamkan di tempat hangat sampai adonan naik dan dan mengembang selama 30 menit (saya fermentasinya hampir 1 jam karena sambil ngerjain PR. Akibatnya tekstur kue berlubang-lubang, hiks)

6. Panaskan oven suhu 180'C. Panggang di dalam oven sampai matang. Lakukan test tusuk

7. Setelah matang, keluarkan dari oven. Langsung oleskan margarin di permukaan kue yang masih panas.

*********
Resep di bawah ini yang asli, milik ibu Jane Sipasulta.

BRUDEL (bukan BLUDER yaa..)

Bahan:
5 1/2 gls terigu
5 btr telur
1 ½ gls gula pasir
1 gls susu bubuk
100 gr margarin (blueband sachet 200gr, dibelah 2 aja, pake 1/2nya, jd ga usah repot nimbang..hehe)
2 gls air hangat
1 bungkus ragi instant


Cara membuat:
1. Campur bahan kering (terigu, gula, susu, ragi) jadi satu.

2. Tambahkan margarin, setelah itu masukkan telur. Kalo males ngaduk, bisa pake mixer dgn kecepatan sedang.

3. Tambahkan air hangat sedikit2. Aduk rata.

4. Tuang di loyang yg sudah dioles mentega dan ditabur terigu (catatan: adonan ini bakal ngembang, jd masukkan setengah loyang saja, kalo ga bisa luber kemana-mana)

5. Diamkan kurleb setengah jam, smp adonan naik.

6. Panggang di oven smp matang.

7. Setelah matang, keluarkan dari oven. Lgsg oleskan margarin di permukaan kue yg msh panas.

O iya, gelas yg dipake gelas belimbing ato yg standar aja.. kalo mau pake cup/cangkir jg okeh aja.. asal sama ukuran gls/cup/cangkirnya.. jgn ngukur terigu, pake cangkir ini.. trus ngukur gula, pake cangkir yg lain...

Jd praktis kan ga usah repot konversi resep ke ukuran gram2an...;)

Bitterballen Spaghetti

Assalamu'alaykum


Hari Sabtu yang lalu saya membuat Roti Sobek Manis Santan untuk cemilan. Hasil jadi lumayan banyak, 3 loyang. Sebagian saya antarkan ke tetangga yaitu Bu Tari. Bu Tari saya beri 1 loyang roti sobek toping wijen. Tanpa disangka ketika sampai di rumah beliau, saya malah disuguh tumis makaroni dan telur (mirip orak arik makaroni telur gitu. Kapan-kapan mau bikin juga ah) dan pulangnya dibawain spaghetti kering 1 pack, brownies buatan beliau dan 1 bungkus crackers. Lah, saya kok malah jadi gimana ya, hihihi. Niat saya hanya ingin berbagi makanan hasil tangan saya sendiri, tapi beliau malah memberi lebih pada saya. Maa syaa allah bu Tari, saya jadi terharu dengan kebaikannya.  Dengan penuh rasa tulus saya katakan, selama 3 tahun berteman dengan beliau, bu Tari adalah orang yang pemurah. Sangat murah hati malahan. Sebelum ini, berulang kali saya menyaksikan sendiri kemurahan hati beliau, tidak hanya kepada saya tapi dengan orang lain juga. Kadang, jika sedang bengong melompong saya sering teringat kebaikan dan kemurahan hati beliau. Dengan siapa pun beliau bersikap seperti itu. Sangat murah hati. Beberapa kali saya diajak makan (ditraktir) bu Tari bersama dengan seorang tetangga yang bernama Bu Tina. Tidak jarang saya jadi sungkan dibuatnya. Karena ditraktir itulah, saya ingin membalasnya dengan membuat roti untuk beliau sekalian buat orang rumah. Ternyata beliau menyukainya. Katanya enak dan layak jual malahan. Alhamdulillaah. Semoga Allah selalu memberkahi Bu Tari dengan rejeki yang berlimpah, kesehatan prima dan umur panjang. Aamiin.

Hasilnya jadi 3 loyang tuh

Roti Sobek Toping Wijen
untuk Bu Tari

Karena saya diberi spaghetti 1 pack, saya rada bingung mau dibuat apa. Sebelumnya saya tidak pernah mengolah spaghetti. Jika diberi saus bolognaise, saya ragu orang rumah bisa doyan. Maklum selera kampung soalnya hihihi..... Akhirnya buka blog, lihat resep apa saja yang ada di DapurManis, yang sekiranya bisa cocok dengan spaghetti. Akhirnya saya teringat dengan bitterballen. Yesss... Beberapa kali sudah saya membuat bitterballen dengan aneka variasi. Pakai jamur tiram, jamur kuping, keju, misoa atau makaroni. Spaghetti termasuk kategori pasta, sama dengan makaroni. Sip deh. Resep tinggal copas, hanya takarannya yang dimodifikasi. Udah pada tau dong ya kalo emak DapurManis selalu gatal tangan mengutak-atik resepnya. Untuk satu resep di bawah ini hasilnya banyak. Tapi tergantung ukuran juga sih. Mau gede atau kecil sesuai selera ya. Bikin bitterballen tuh mudah banget lho. Bahan juga gak neko-neko. Nggak perlu skill khusus. Paling hanya mengaduk dengan telaten adonan terigu dan susu cairnya di atas wajan supaya tidak berbutir-butir sehingga bisa menghasilkan adonan yang smooth alias licin. Sekarang, yuk ceki-ceki bahan dan cara buatnya.

Bahan :
4 sendok makan margarin untuk menumis
6 butir bawang merah, dicincang halus
100 gr fillet ayam, digiling
100 gr terigu serbaguna
600 ml campuran air kaldu dan susu cair
100 gram spaghetti, direbus matang, dipotong-potong
1/2 sendok teh kaldu ayam bubuk
3/4 sendok teh garam
1/2 sendok teh merica bubuk
3/4 sendok teh pala bubuk

Bahan pelapis :
2 butir telur, dikocok lepas
100 gram tepung panir kasar oranye

Cara membuat :
1. Panaskan margarin. Tumis bawang merah sampai harum. Menyusul ayam giling, aduk-aduk sampai ayam berubah warna.

2. Kecilkan api. Tambahkan tepung terigu. Aduk menggunakan sendok kayu sampai berbutir. Tuang campuran kaldu susu cair sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai licin.

* Menuangkan campuran kaldu+susu cairnya secara bertahap ya, 4-5 kali supaya terigu tidak berbutir-butir. Tiap selesai dituang aduk dengan sendok kayu sampai rata. Gunakan api kecil supaya tidak mudah menggumpal terigunya.

3. Masukkan spaghetti, aduk rata. Taburkan garam, merica bubuk dan pala bubuk. Aduk rata dan koreksi rasanya. Masak terus sampai mengental. Matikan api, dinginkan. Adonan akan jadi padat setelah dingin.

4. Ambil selembar plastik, olesi minyak goreng. Ambil sedikit adonan. Bentuk bola-bola. Celupkan ke dalam telur. Gulingkan ke tepung panir kasar oranye. Lakukan sampai adonan habis. Diamkan minimal 30 menit supaya panir melekat lebih kuat dan tidak rontok ketika digoreng.

5. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang berwarna kuning kecoklatan.

Hasil : 27 buah


Gelek Pandan (Onde-Onde Ketawa Pakai Yeast)

Assalamu'alaykum


Setelah tau rasanya gelek yang pernah dibuat dan hasilnya cepet ludes, saya kepingin bikin lagi. Kali ini bikin pakai daun pandan biar wangi hasilnya. Saya memotong daun pandan di teras karena daunnya sudah cukup lebat. Daripada kering, mending langsung diberdayakan saja jadi gelek.

Resep gelek yang dulu, dimodifikasi sedikit dengan mengurangi terigu, dan menambahkan air supaya sedikit lemas adonannya sehingga mudah dibentuk. Saya juga mencelupkan adonan ke dalam air sebelum digulingkan ke atas wijen agar tidak rontok ketika digoreng. Selain itu saya juga membuat keratan menggunakan gunting di atas adonan, sesaat sebelum digoreng. Hasilnya bisa merekah lebih lebar. Kelihatan kayak bunga malahan, hihihi.... Kelebihan adonan yang dikerat adalah adonan lebih mudah matang sampai ke dalam. Tanpa banyak prolog yang bertele-tele, berikut resepnya yah. Yuk capcus.....

Bahan :
1 butir telur
100 gr gula pasir
⅛ sdt garam halus
40 gr margarin suhu ruang, tidak perlu dicairkan
450 gr terigu serbaguna
6 gr yeast/ragi instant
5 gr baking powder
4 gr soda kue
½ sdt vanili bubuk
180 ml air pandan (10 lbr daun pandan+air diblend saring. Beri 2-3 tetes pewarna hijau tua)
Air secukupnya untuk celupan
100 gr wijen putih
Minyak goreng cukup banyak

Cara membuat :
1. Dalam baskom besar kocok telur, gula dan garam sampai kental dan gula larut. Masukkan margarin, kocok asal rata. Gunakan whisker atau garpu saja untuk mengocok.

2. Masukkan semua bahan kering seperti terigu, yeast instant, baking powder, soda kue dan vanili bubuk. Aduk menggunakan tangan (diuleni) sambil dituangi air pandan sedikit demi sedikit, sampai rata dan kalis (tidak lengket di mangkuk).

3. Ambil adonan sebesar bola bekel, bulatkan, celupkan sebentar dalam air, kemudian gulingkan ke atas wijen. Tata di atas loyang. Lakukan sampai adonan habis.

4. Panaskan minyak goreng cukup banyak. Gunting adonan berbentuk silang di permukaannya. Goreng gelek sampai warnanya kuning kecoklatan (deep fry). Gunakan api kecil supaya matang sampai ke dalam. Angkat, tiriskan dan dinginkan.

Pukis Kenyal Dan Praktis, All In One Method

Assalamu'alaykum


Entah kenapa hari ini saya merasa bersemangat ingin membuat cemilan, meski di kepala belum punya ide mau bikin apaan. Langsung deh, "inspeksi" bahan kue di toples gede untuk melihat bahan apa saja yang masih tersedia. Saya melihat masih ada terigu dan gula pasir. Ketika buka kulkas masih ada telur dan instant yeast. Pingin bikin roti atau pukis yah ? Bingung nih. Akhirnya saya pilih pukis saja karena masih pingin pegang mixer setelah bikin Eggless Marble Sponge Cake tempo hari. Itung itung biar gak kelamaan nganggur mixernya. Kali ini saya pingin cara pembuatan pukis yang praktis, all in one method alias semua bahan digabrukin ke dalam baskom kemudian diaduk. Berhubung tepungnya banyak, saya pakai mixer saja supaya cepet nyampur. Ketika menyiapkan bahan, saya teringat dengan pukis pasar yang biasa dibeli. Tekstur pukis pasar tuh rada kenyal, sedikit liat dan lentur. Saya berpikir mungkin diberi tapioka kali ya. Akhirnya saya mengambil tapioka untuk dicampurkan pada terigunya. Adonan ini tidak harus dikocok sampai mengembang seperti sponge cake. Asal sudah rata dan licin teksturnya, sudah cukup. Gampang kan, mana praktis dan cepet lagi. Setelah adonan selesai, tinggal difermentasi dan bisa ditinggal melakukan pekerjaan lain. Setelah matang, teksturnya seperti yang saya inginkan. Sedikit membal gitu, mirip pukis di pasar. Jadi ini bukan pukis yang lembyut ya. Kalo ingin pukis lembut, hilangkan tapiokanya dan ganti dengan terigu. Untuk 1 resep adonan ini bisa menghasilkan 30-40 pcs pukis ukuran kecil. Ukuran cetakan yang saya pakai ada di foto ya. Yuk sekarang dilihat resepnya yuk....


Bahan :
500 ml santan sedang
1 sdt garam
3 lbr daun pandan, simpulkan
50 gr mentega (boleh diganti margarine)
425 gr terigu serbaguna
75 gr tapioka/kanji/aci
½ sdt baking powder
250 gr gula pasir
3 butir telur ayam
½ sdt vanili bubuk
1 sdt (4 gr) yeast/ragi instant
Margarine untuk olesan setelah matang

Cara buat :
1. Rebus santan, garam dan daun pandan sampai mendidih, sambil diaduk-aduk supaya tidak pecah. Masukkan mentega kemudian matikan api. Biarkan mentega jadi meleleh kemudian sisihkan sampai hangat.

2. Dalam baskom atau mangkuk besar campur jadi satu terigu, tapioka, gula pasir, telur dan vanili. Sambil dituangi santan margarine, kocok pakai mixer speed rendah-sedang sampai rata dan tidak berbutir-butir. Adonan akhir agak kental seperti sponge cake. Taburkan yeast, kocok lagi asal rata. Tutup dan fermentasikan sampai naik 2 kali lipat (double) selama 1 jam (tergantung suhu ruangan).

Note :
* Jika tidak ada mixer, boleh diaduk manual pakai sendok kayu atau balloon whisk. Adonan tidak memerlukan pengocokan hingga mengembang. Asal sudah rata dan licin teksturnya, sudah cukup. Jika bergerindil, saring saja. Setelah disaring, masukkan instant yeast kemudian difermentasi.

* Pastikan yeast masih aktif ya. Jangan yeast yang telah mati. Jika ragu, boleh membuat biang dahulu untuk mengaktikan yeast. Ambil 100 ml santan hangat dari resep di atas, yeast dan 1 sdt gula pasir kemudian dicampur dan diaduk hingga rata. Biarkan berbuih selama 10-15 menit. Masukkan ke dalam adonan bersama dengan sisa santan margarine.

3. Panaskan cetakan pukis menggunakan api sedang. Setelah panas, kecilkan apinya. Olesi margarin. Aduk-aduk adonan supaya kempis dan semua gasnya hilang.

4. Tuang ke dalam cetakan setinggi 7/8, tutup. Panggang menggunakan api kecil sampai matang. Angkat. Selagi panas, olesi semua bagian pukis dengan margarine supaya tidak kering.

Note :
* Jika mau diberi toping, panggang setengah matang dulu. Kemudian taburkan topingnya. Tutup sampai matang.


Bika Ambon Ekonomis, Hanya 2 Telur, Fermentasi Semalam

Assalamu'alaykum


Kepingin bikin bika ambon lagi nih. Setelah beberapa kali sukses bikin bika ambon bersarang, saya kangen. Bika ambon termasuk penganan yang disukai di rumah. Meski bolak balik bikin, saya tetap mengutak atik resep dengan pakem sedikit telur. Ngirit ya hihihi.....Tipikal emak-emak banget deh. Saya demen memodifikasi resep dengan komposisi bahan yang berbeda-beda. Salah satunya ya resep di bawah ini. Meski irit telur, tetep enak kok hasilnya. Jadi layak jual juga. Karena ekonomis, saya menambahkan terigu supaya bika bisa empuk dan nggak alot (liat). Penambahan terigu pada bika ambon bisa dilihat di resep yang lain, yang pernah saya buat. Maksudnya komposisi tapioka dan terigu berbeda-beda gitu di setiap resep. Karena lama gak bikin bika ambon, kadang saya merasa keder, ngeper sebelum bikin. Saya khawatir lupa trik dan tips yang pernah saya lakukan dulu. Masalahnya karena tidak semua trik atau tips bisa diingat, atau tidak ditulis dengan super detail. Apalagi saya tergolong jarang membuat kue kenyal satu ini. Jadi gampang lupa dengan semua trik dan tipsnya. Termasuk ketika eksekusi resep yang sekarang ini, saya deg-degan ketika memulainya.

Untuk resep kali ini saya pakai metode fermentasi semalam. Njiplak penjual bika ambon yang katanya adonan bikanya difermentasi semalam (hasil baca tabloid lama yang mewawancarai penjual bika ambon). Selama ini saya hanya mendiamkan adonan selama 2-3 jam untuk fermentasinya. Pingin tau aja, bisa gak saya melakukannya. Bahan yang digunakan sama dengan bika ambon pada umumnya. Karena fermentasi semalam, penggunaan yeast instant dikurangi banyak supaya tidak over fermentasi yang bisa mengakibatkan asam rasanya. Resep di bawah nanti hanya pakai 2 gram instant yeast saja. Proses fermentasi akan berlangsung lambat akibat pemakaian yeast yang sedikit tadi. Setelah difermentasi semalam, keesokan harinya barulah adonan dipanggang. Saya masih cocok pakai pasir untuk memanggangnya, tidak pakai oven. Menurut saya lebih praktis cara ini. Tapi kalo dirasa ribet, silakan pakai oven ya. Cuma, saya belum pernah mencoba pakai oven, jadi ga tau gimana tekniknya. Kalo nekat sok pinter kasih saran, takut gagal hasilnya. Jadi saya sharing yang sudah dicoba saja ya. Jika adonan mau difermentasi siang hari, bisa juga kok. Mungkin bisa lebih cepat kali ya karena suhu siang hari biasanya lebih panas. Jadi adonan dibuat pagi, difermentasi seharian, kemudian sorenya dipanggang. Terserah mau bikin pagi atau malam, suka suka aja ya. Satu-satunya hal yang tidak saya sukai dari bika ambon loyang adalah perjuangan mengeluarkan bika setelah matang wkwkwkwkw..... Bagian dasarnya pasti lengket sodara-sodara ! Ketika masih panas, bika sudah lengket. Apalagi setelah dingin. Lebih lengket lagi ! Super lengket malahan ! Padahal bika ambon dilarang keras dikeluarkan dari loyang selagi panas karena seratnya sangat rentan jadi rusak. Loyang juga tidak boleh dialas kertas karena akan mengapung selagi dipanggang. Apa boleh buat, harus berjuang mencongkel bika pakai spatula kayu supaya lepas dari loyang hihihi.... Perasaan saya campur aduk gak karuan antara ngeden (mengejan) karena harus mencongkel sekuat tenaga, tapi harus ekstra hati-hati juga supaya bika tidak rusak, sembari menggerutu panjang pendek hahahaha..... Meski begitu kenapa saya belum kapok bikin bika ambon pakai loyang ya ? Apa mungkin sudah waktunya memberi kode keras pada bapaknya anak-anak untuk beli loyang teflon baru (modus).

Untuk memanggang bika ambon, teorinya menggunakan slow baking. Artinya memanggang dengan panas rendah, api kecil, waktu cukup lama dan tidak ditutup. Bagian atas yang tidak ditutup tujuannya supaya gas atau udara yang didorong dari bawah, bisa lepas keluar. Gas yang keluar inilah yang membentuk serat dan permukaan bika ambon jadi berlubang-lubang. Setelah lubang tidak terbentuk lagi, barulah loyang ditutup agar permukaannya matang dan kering. Memang butuh waktu lama. Rata-rata lebih dari 1 jam. Tergantung dari tinggi rendahnya bika yang diinginkan. Semakin tinggi akan semakin lama waktu panggangnya. Sebaliknya, jika lebih rendah, waktu yang dibutuhkan juga lebih singkat. Jika kurang sabar dan ingin menggunakan api agak besar karena pingin cepet matang, dijamin bagian dasar bika akan menggelap cenderung gosong hihihi.....saya udah pernah sih bikin bika yang dasarnya gelap. Untungnya gak gosong dan gak pahit. Tapi jadi kurang cantik sih hasilnya. Oleh karena itu membuat bika ambon tidak bisa terburu-buru. Harus punya stok sabar yang buuanyak heheheh.... Gimana, siap bikin bika ambon ? Hayuk ah uji nyali bikin bika ambon.



Bahan Biang :
2 gr (½ sdt) ragi/yeast instant
1 sdt gula pasir
100 ml air hangat

Bahan bika :
325 ml santan kental dari 1 butir kelapa
4 gr garam
1 btg serai, memarkan
10 lbr daun jeruk purut, buang tulang daunnya supaya wangi
2 lbr daun pandan

200 gr tapioka/aci/pati kanji
100 gr terigu
1 sdt kunyit bubuk
200 gr Gula pasir
2 btr telur utuh
75 ml minyak goreng

Cara buat :
1. Rebus santan, garam, serai, daun jeruk dan pandan. Aduk-aduk dengan api kecil supaya tidak pecah, sampai mendidih. Matikan api kemudian dinginkan. Saring dan ukur kembali sebanyak 300 ml. Biarkan dingin.

2. Campur semua bahan biang : yeast instant, gula pasir dan air hangat, aduk rata. Biarkan berbuih selama 15 menit. Sisihkan.

3. Dalam wadah besar campurkan tapioka, terigu, kunyit bubuk dan gula pasir. Aduk pakai balloon whisk. Buat lubang di tengah. Tuangkan biang ke dalamnya.

4. Masukkan telur. Menyusul santan dingin sambil terus diaduk. Terakhir masukkan minyak goreng. Aduk sampai rata. Adonan akhir encer/cair. Tutup dan fermentasikan sampai berbuih banyak selama semalam (saya mulai fermentasi jam 21.00 s/d 06.00 esok pagi. Total fermentasi 9 jam).

Note :
* Jika mau fermentasi express (kereta kali pakai express 😁😁😁) alias lebih cepat, gunakan instant yeast 1 sachet (11 gr) dan difermentasi 2-3 jam.

* Selain gelembung dan buih yang terbentuk banyak, aroma ragi juga tercium cukup tajam ketika adonan dibuka tutupnya. Ini juga pertanda fermentasi harus segera diakhiri dan harus segera dipanggang.

5. Siapkan nampan/kaleng bekas biskuit/loyang butut/wajan butut atau apalah yang lain, kemudian diisi pasir setinggi 2-3 cm. Taruh di atas kompor. Beri selembar kertas bersih di atas pasir (pakai kertas baking) kemudian letakkan loyang ukuran 18x18x7 cm di atasnya. Olesi minyak goreng agak banyak. Ratakan. Minyak sedikit menggenang di tengah loyang. Panaskan sampai loyang panas selama 30 menit memakai api kecil.

Note :
* Jika tidak ada pasir bisa menggunakan abu gosok untuk cuci piring dengan ketebalan yang sama.

* Sengaja mengalasi loyang dengan selembar kertas supaya pasir tidak mengotori loyang yang kebetulan ada sambungannya. Tidak jarang minyak sering merembes yang mengakibatkan pasir nempel di sisi loyang. Ukuran kertas sedikit lebih lebar daripada loyang.

6. Ambil adonan bika, aduk-aduk adonan sampai kempis. Tuang ke dalam loyang panas. JANGAN DITUTUP. Panggang dengan api kecil (saya pakai api super kecil) sampai permukaan bergelembung kecil kecil. Lanjutkan memanggang sampai gelembung terbentuk rata di semua permukaan adonan (menit ke 15 mulai terlihat gelembung di pinggir loyang).

7. Setelah terbentuk gelembung, pada menit ke 40-45 akan terbentuk lubang-lubang. Lanjutkan memanggang selama 20-25 menit lagi sampai tidak terbentuk lubang di permukaan.

8. Setelah lubang berhenti berproduksi, saatnya menutup loyang. Tutup loyang (pakai tutup panci) sampai permukaan kering dan matang (10-15 menit). Test sentuh jari. Jika tidak nempel, sudah matang. Angkat loyang dari nampan berisi pasir kemudian dinginkan supaya kokoh tekstur bikanya.

Note :
* Total waktu panggang bika ini butuh waktu 90-100 menit (1 jam 40 menit). Semakin tinggi bika, semakin lama waktu panggangnya. Sebaliknya, semakin rendah, waktunya akan lebih singkat

* Untuk mendapatkan efek warna sedikit gosong di permukaan bika, saya menggunakan fire blow torch yang disemburkan ke atas bika yang telah matang.

Hasil : 1 buah bika ambon 18x18 cm dengan tinggi 5 cm



Gelek, Onde-Onde Ketawa Pakai Yeast


Assalamu'alaykum


Pernah dengar kata Gelek ? (huruf 'e' dibaca seperti ember). Ada yang pernah makan onde onde ketawa ? Pasti pernah. Onde-onde ketawa alias roti ketawa (Medan), sering saya nikmati ketika kecil dulu. Di Solo, ukuran onde onde ketawa cukup beragam, dari yang seukuran bola tenis hingga yang imut seukuran kelereng untuk sekali hap. Almarhum bapak saya, ngefans dengan onde onde ketawa ini. Apalagi jika saya nginthil (ngikut) ibu ke pasar, pasti ketemu sama snack satu ini. Berulang kali makan onde-onde ketawa, saya menemukan 2 macam tekstur yang berbeda. Ada yang garing, sedikit renyah bagian luarnya dan agak ngeprul atau beremah bagian dalamnya. Sedang satunya terasa lembut, empuk, digigit tidak keras dan sedikit terasa moist (lembab). Nah, onde-onde yang moist ini lho yang jadi favorit saya. Bertahun-tahun saya mencari resepnya tapi belum juga ketemu. Jadul, masih susah dong ya kalo mau cari resep. Gak seperti sekarang, resep bertebaran di internet. Suatu hari, ketika saya masih tinggal di Bawen dulu, saya disamper tetangga. Namanya mbak Hartini, yang datang ke rumah untuk pinjam mixer karena mau bikin gelek. Apa itu gelek ? Gelek adalah sebutan untuk onde-onde ketawa di daerah Ungaran dan sekitarnya (Kabupaten Semarang). Seumur hidup baru sekali ini saya mendengar istilah gelek. Lucu gitu rasanya hihihi... Tetangga saya itu mau mengadakan hajatan dan gelek ini akan jadi salah satu suguhannya. Selain pinjam mixer, dia juga mengajak saya untuk melihat proses pembuatan gelek. Dengan senang hati saya terima tawarannya. Di sana saya melihat mbak Hartini ini bikin gelek menggunakan ragi/yeast instant. Baru ngeh saya jika gelek pakai yeast. Karena setau saya, yeast hanya dipakai untuk bikin roti, pao atau donat. Ternyata gelek perlu yeast juga supaya bisa mekar dan memberi tekstur empuk. Setelah matang, saya diberi beberapa butir untuk dicicip. Dan saya kaget !! Gelek ini adalah onde-onde yang saya cari selama ini. Teksturnya mirip dengan onde-onde moist yang pernah saya makan dulu. Langsung deh saya nodong resepnya dan diberikan. Beberapa kali saya praktek bikin gelek ini. Secara rasa mirip dan enak, tapi bentuknya gak karuan. Pada gundul, rontok semua wijennya hahahah..... Sayang, ketika saya pindahan, catatan geleknya hilang. Padahal saya berniat memodifikasi resepnya supaya lebih baik. Sejak saat itu saya tidak pernah bikin gelek lagi.

Tanpa dinyana ketika saya masuk grup kuliner di sosmed, ada yang sharing resep gelek ala daerah Ungaran. Dan resepnya pakai yeast !! Seketika saya simpan resepnya. Resep ini milik mbak Eko Pangestuwati, seorang bakul kue rumahan yang tinggal di Ungaran. Ingatan saya kembali ke masa lampau ketika melihat mbak Hartini bikin gelek dulu. Resep mb Eko ini pakai yeast dan margarin sama seperti milik mb Hartini dulu. Dan menurut saya, margarin inilah yang membuat tekstur gelek jadi moist. Jika roti ketawa hanya menggunakan baking powder atau soda kue supaya bisa merekah, penggunaan yeast pada gelek membuat tekstur dalamnya lebih empuk. Dan saya suka onde onde yang empuk ini. Setelah resepnya disimpan beberapa lama, baru hari inilah saya bikin gelek yang kesekian kalinya. Resep mb Eko yang asli menggunakan 2,5 kg terigu. Memang hasilnya buanyak karena untuk jualan. Sedang resep di bawah saya pakai 500 gr terigu dengan 1 butir telur. Plus modif sedikit pada takarannya. Kan, umat di rumah cuma sedikit. Itupun hasilnya jadi 40-50 biji lho. Banyak sedikitnya tergantung ukuran yang dibuat ya. Ketika masih hangat teksturnya moist dan empuk. Begitu dingin, masih tetep empuk juga. Juara ! Gak mengecewakan deh resepnya. Jadi gigi gak perlu olah raga keras untuk mengunyah heheheh.... Setelah matang, ih senengnyaaaa. Makanan nostalgia saya sudah ketemu. Udah gitu, rasanya seperti yang saya impikan ketika saya masih anak anak dulu. Lembut, moist dan tidak terlalu manis. Dinikmati bersama teh hangat, maa syaa allah, surga deh....

Bahan :
1 butir telur
100 gr gula pasir
⅛ sdt garam halus
40 gr margarin suhu ruang, tidak perlu dicairkan
500 gr terigu serbaguna
6 gr yeast/ragi instant
5 gr baking powder
4 gr soda kue
½ sdt vanili bubuk
160 ml air
100 gr wijen putih
Minyak goreng cukup banyak

Cara membuat :
1. Dalam baskom besar kocok telur, gula dan garam sampai kental dan gula larut. Masukkan margarin, kocok asal rata. Gunakan whisker atau garpu saja untuk mengocok.

2. Masukkan semua bahan kering seperti terigu, yeast instant, baking powder, soda kue dan vanili bubuk. Aduk menggunakan tangan (diuleni) sambil dituangi air sedikit demi sedikit, sampai rata dan kalis (tidak lengket di mangkuk).

3. Ambil adonan sebesar bola bekel, bulatkan kemudian gulingkan ke atas wijen. Lakukan sampai adonan habis.

Note :
* Ketika membulatkan onde-onde tidak perlu rapi dan mulus. Buat saja bulatan retak-retak, pecah-pecah yang nantinya akan merekah ketika digoreng.

4. Panaskan minyak goreng cukup banyak. Goreng gelek sampai warnanya kuning kecoklatan (deep fry). Gunakan api cenderung kecil supaya matang sampai ke dalam. Angkat, tiriskan dan dinginkan.

Roti Goreng Kepang Isi Pisang, Hanya Sekali Proofing, Tanpa Telur !!


Assalamu'alaykum


Meski cuaca cukup cetar membahana di Ciledug alias puanassss bingit, tapi tidak menyurutkan niat saya membuat cemilan untuk orang di rumah. Saya lagi kepingin roti goreng. Selama ini lebih sering bikin roti oven. Kangen gitu sama roti goreng. Mumpung di beliin pisang uli, saya buat aja roti pisang. Biar rada cantik (halah) saya sengaja mengepang rotinya. Emang kurang kerjaan kali ya. Tapi memang saya lagi ganjen nih, bikin roti yang tidak sekedar bulat-bulat dan dibuat roti sobek. Resepnya gampil kok sama seperti aneka resep roti di DapurManis. Yang pasti, pakai sekali proofing doang biar gak kelamaan proses bikinnya. Penggunaan ragi harus diperhatikan, karena cuaca yang puanaaass banget. Takut over proofing. Sedikit tips ya. Biar bentuk rotinya tidak berubah ketika diproofing, fermentasikan saja sebesar 50% dari besar semula. Jika lebih, khawatir bentuknya berubah atau kepangnya lepas dan akibatnya tidak cantik lagi. Apalagi ketika digoreng, roti akan mengembang lagi. Nah itu saja tipsnya. Untuk hal lain, saya yakin pasti sudah pada pinter dong ya urusan bikin roti goreng. Hasilnya, enak. Pori-porinya rapat dan halus. Rotinya ringan, tidak eneg tapi teteeeuuuppp lembut meski tanpa telur. Jadi pisangnya masih berasa gitu. Apalagi kalo masih anget, jossss tenan...... Sekarang, lihat resepnya yuk.



Sengaja ada yang tidak diberi isi biar kalo disobek kelihatan
tekstur dalamnya

Bahan :
325 gr terigu serbaguna
20 gr susu bubuk
30 gr gula pasir
4 gr garam
5 gr ragi/yeast instant
175 ml air
1½ sdm mentega (boleh pakai margarin)

Isi :
18 buah pisang uli/kepok 

* Pilih pisang yang benar-benar matang. Kulitnya berbintik-bintik hitam. Jadi tidak perlu disaute (ditumis) karena ketika digoreng nanti akan matang dengan sendirinya.

Cara buat :
1. Dalam wadah besar campur terigu, susu bubuk, gula pasir dan garam. Aduk rata. Taburkan ragi instant, aduk rata lagi.

2. Tuangi air sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai menggumpal dan lengket. Beri mentega, uleni lagi sampai kalis (tidak lengket).

3. Timbang adonan @35 gr (18 bagian), bulatkan. Ambil adonan, gilas bentuk oval. Kerat kedua sisinya kemudian letakkan pisang di tengah.

4. Silangkan kedua sisi yang dikerat tadi ke atas pisang, dan membuat pisang tertutup. Sambil sedikit ditarik supaya rapat dan tidak terbuka ketika difermentasi dan digoreng. Letakkan di atas loyang bertabur terigu. Lakukan adonan sampai habis. Tutup dan fermentasikan sampai naik 50% dari besar semula.

5. Panaskan minyak goreng cukup banyak menggunakan api cenderung kecil. Goreng roti pisang sampai bawahnya kecoklatan. Balik sekali dan goreng sampai kuning kecoklatan. Angkat, tiriskan.