Laman

Senin, 28 September 2015

Amparan Tatak Pisang

Assalamualaykum



Cemilan ini saya buat waktu Idul Adha kemarin. Jadi ini adalah posting tertunda yang baru bisa saya tuliskan resepnya sekarang.
Sebenarnya sudah lama sih saya pingin snack ini. Mumpung di rumah ada pisang kepok satu sisir, akhirnya terlaksana juga deh. Membuat amparan tatak pisang tergolong mudah. Kita hanya membuat adonan seperti nagasari atau bubur sumsum itu lho. Adonan pertama dibuat kental supaya hasilnya padat karena atasnya diberi taburan pisang. Sedang lapisan kedua dibuat agak lembut, mirip bubur sumsum dengan menggunakan santan kental. Lapisan atasnya ini rasanya istimewa deh menurut saya karena lembut dan lumer gitu. Oh ya tips penting lain, gunakan plastik yang lebarnya melebihi loyang ya karena amparan tatak ini tidak bisa dibalik. Karena lapisan atasnya agak lembek, jadi nggak bakalan kuat menopang lapisan bawah plus pisang jika dibalik. Ancur nanti. Jadi setelah benar-benar dingin dan padat, angkat kelebihan plastik yang menjulur ke samping baru kemudian dipotong-potong. Sedang untuk pisang, boleh pake pisang apa aja. Pisang kepok, uli, raja, tanduk atau yang lain. Yang penting pisangnya harus matang betul supaya tidak berantakan ketika dipootong karena pisang yang kurang matang teksturnya agak keras.

Bahan lapisan bawah :
175 gr tepung beras putih
25 gr tepung tapioka
½ sdt garam halus
100 gr gula pasir
700 ml santan encer (sisa perasan santan untuk lapisan atas)
2 lbr daun pandan, simpulkan
1 sisir (15-16 biji) pisang kepok kuning (boleh pake pisang uli/raja/tanduk atau yang lain), potong dadu

Lapisan atas :
25 gr tepung beras
25 gr tepung jagung
½ sdt garam halus
1 sdm gula pasir
500 ml santan dari 1 butir kelapa
2 lbr daun pandan, simpulkan

Cara membuat :
  1. Siapkan loyang ukuran 20x20x7, alasi semua bagiannya dengan plastik lebar dan tebal. Lebihkan bagian sisinya supaya mudah mengeluarkan dari loyang jika telah matang. Panaskan kukusan supaya mendidih. 
  2. Lapisan Bawah : dalam wadah besar campur tepung beras, tapioka, garam dan gula pasir. Tuangi setengah bagian santan encer sedikit demi sedikit sampai licin, sisihkan. Jerang sisa santan dan daun pandan di atas api sedang sambil diaduk-aduk sampai mendidih. Matikan api. Masukkan larutan tepung ke dalam santan panas, aduk cepat supaya tidak menggumpal. Setelah rata nyalakan kembali api kecil sambil diaduk-aduk sampai kental. Matikan api. Buang daun pandannya.
  3. Tuang ke dalam loyang, goyang-goyang sampai rata. Taburkan pisang ke atasnya, ratakan sambil ditekan-tekan sedikit supaya pisang agak tenggelam. Kukus dalam dandang panas sampai matang dan keras,  selama 30 menit. 
  4. Lapisan atas : campur tepung beras, tepung jagung, garam dan gula pasir, aduk rata, tuangi sebagian santan, aduk rata. Sisa santan dan daun pandan dijerang di atas api sampai mendidih. Kecilkan api, masukkan larutan tepung beras, aduk sampai kental. Matikan api. Buang daun pandannya.
  5. Tuang ke atas lapisan pisang kemudian kukus kembali selama 30 menit sampai matang. Setelah matang buka tutup kukusan dan lanjutkan mengukus selama 10 menit (kondisi kukusan terbuka ya) supaya permukaannya tidak basah serta tahan lama (tidak mudah basi).
  6. Keluarkan dari kukusan dan biarkan dingin. Setelah dingin betul, keluarkan dari loyang dengan mengangkat plastiknya. Potong-potong, sajikan.

7 komentar:

  1. Kue favorit turun temurun... secara mamaku org banjar hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya ? Kue ini emang enak. Bapaknya anak-anak doyan banget ini. Ketika dah habis, ditanyain mulu kapan bikin lagi hihi...

      Hapus
  2. mba Rina, yang ini aku ngiler juga
    kayaknya lembut kuenya dan enak ada pisangnya, duh apalagi pisang kepok, favoritku banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk bikin. Yang aku sukai dari kue ini tuh lapisan atasnya, lembut dan guriiihhh gitu. Pake kelapa 1 butir soalnya hehe...gede lagi kelapanya.

      Hapus
  3. mbak rina biasanya mamak saya menggunakan nangka sebagai ganti pisang dan amparan tatak ini memang enak mengingatkan kenangan kecil saya saat mamak saya rajin membuat kue tradisional ini. ketika dewasa saya sudah jarang memakan amparan tatak karena ya itu mamak saya sudah malas membuat amparan tatak ini dan jika membeli rasanya juga berbeda dan sepertinya juga saya sudah terancuni dengan kue modern yang lucu-lucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa ya pake nangka ? Sip deh untuk infonya. Cuma di sini rada susuah nyari nangka matang, Kebanyakan pada dijadikan sayur, jadi masih muda udah dipetikin.
      Hayuk bikin amparan tatak biar lestari makanan tradisional kita.

      Hapus
  4. Assalamualaikum. Mba. Rina.... klo ga ada tp tapioka ma tp jagung bisa ga klo diganti tepung yg lain? makasih..
    irma

    BalasHapus

Dikarenakan banyaknya komentar yang tidak pantas atau link "titipan" yang muncul di komentar, maka setiap komentar yang masuk akan saya seleksi. Hanya komentar yang sekiranya pantas, sopan dan tidak mengandung kekerasan yang akan tampil di komentar. Link jualan obat atau promo produk juga akan dihapus. Terimakasih atas perhatian anda yang telah mengunjungi dan meninggalkan komentar manis di DapurManis. Saya menghargainya sebagaimana apresiasi anda terhadap blog ini.